Tuesday, July 24, 2018

Crossing The River

“Moses my servant is dead. Get going. Cross this Jordan River, you and all the people. Cross to the country I’m giving to the People of Israel. I’m giving you every square inch of the land you set your foot on—just as I promised Moses. From the wilderness and this Lebanon east to the Great River, the Euphrates River—all the Hittite country—and then west to the Great Sea. It’s all yours. All your life, no one will be able to hold out against you. In the same way I was with Moses, I’ll be with you. I won’t give up on you; I won’t leave you. Strength! Courage! You are going to lead this people to inherit the land that I promised to give their ancestors. Give it everything you have, heart and soul. Make sure you carry out The Revelation that Moses commanded you, every bit of it. Don’t get off track, either left or right, so as to make sure you get to where you’re going. And don’t for a minute let this Book of The Revelation be out of mind. Ponder and meditate on it day and night, making sure you practice everything written in it. Then you’ll get where you’re going; then you’ll succeed. Haven’t I commanded you? Strength! Courage! Don’t be timid; don’t get discouraged. God, your God, is with you every step you take.”

Jakarta July Travel





Malam itu, tepat pukul 20.00. Mengejar penerbangan pada jam 23.45. Dari arah Depok menuju Bandara Soeta. Mau lewat mana nihh... Biasanya naik damri atau angkutan umum, kali ini diantar pakai mobil sendiri.

Coba pakai google map, eh malah diarahkan ke arah jalan yang tidak lewat jalan tol. Kelamaan nantinya..Akhirnya pakai jurus pamungkas.."nanya orang".

Jawabannya belok kiri masuk tol. Nanti pilih yang Cawang bukan Jagorawi. Oke Clear!! Sudah masuk tol, kan gampang tinggal baca petunjuk jalan. 

Cawang tetap berada di lajur kanan. Tol Jagorawi Jakarta - Bogor berada di lajur kiri.  Jadi kepikiran mau cari di KBBI apa sih perbedaan kata 'jalur' dan 'lajur'?

Beberapa saat tiba-tiba ada petunjuk yang menyebutkan Bandara Soekarno - Hatta. Jadilah mobil mengikuti petunjuk tersebut. Belok kiri! Bukannya ikut jalur Cawang yang dari tadi kanan.

Setelah beberapa lama...cukup lama...tidak ada lagi petunjuk Bandara Soeta. Mulai bingung. Malah yang muncul Jakarta - BSD atau apa gituhh..pokoknya itu pastinya menjauh dari Bandara..dan jam masih ( atau sudah )  menunjukkan pukul 21.30.

Jurus pamungkas kembali digunakan..kali ini tidak bisa berhenti untuk bertanya karena di jalan tol,  jadi harus menelpon. Yang ditelepon harusnya orang yang tahu jalan. Siapa lagi yang memenuhi kriteria..selain supir Grab. :)

Pembicaraan berakhir ketika petunjuk bandara kembali terlihat tepat dengan gerbang tol yang disebutkan sang supir.. Ahh mulai lega.. akhirnya memasuki tol bandara dan tiba 45 menit lebih cepat dari waktu boarding.




Lesson Learned :
Berjalan dengan Tuhan itu ngeri ngeri sedap.. kata seseorang yang pernah aku kenal...
Bagaimana tidak...apa saja bisa terjadi..terlambat pesawat bukan karena macet, jalan tetap lancar 70 - 90 km /jam tapi rutenya salah..malah mutar-mutar..tersesat dan waktu habis..

Petunjuk kadang ada, tapi kadang juga hilang. Yang penting tetap berserah. Doa. Ucap syukur. Percaya bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan kontrol atas hidup kita. Kadang Tuhan ngomong. Tapi kadang juga Tuhan diam. Sama dengan petunjuk tadi. Tapi, tergantung kitanya.. terkadang kalau kita sudah putus asa, 'terpaksa' cari bantuan dari yang lain.

Terima kasih atas tuntunanMu..Tanpa Kau..kami pasti masih terus berputar-putar di jalan dan menghabiskan waktuMu yang berharga.
Ajar kami untuk mengerti jalan-jalanMu. Karena semua jalanMu itu ajaib, indah dan sempurna..







Sunday, May 6, 2018

Here as it is in Heaven

Gereja Bukit Kasih, Dengen Mappu Village


Perjalanan dari Mamuju menuju desa Mappu, ditempuh sekitar 4 -5 jam. Kami berangkat pada pukul 15.00 dan tiba pada 17.30. Semula kami melewati jalanan beraspal yang licin namun selanjutnya adalah jalanan berbatu dan harus menempuh sekitar 9 sungai..? 
Wow..
Jujur..saya benar-benar menghitungnya.. berharap untuk sampai di sungai yang terakhir.




Sungai yang dilewati ketika menuju Mappu



Sedih juga melihat kenyataan bahwa masih ada daerah di Indonesia ( Bagian Tengah) yang masih harus melalui sungai. Tidak ada jembatan atau gorong-gorong. Kalaupun ada itu untuk dilewati orang ketika sungai meluap disaat banjir.

Mobil yang digunakan juga bukanlah tipe 4WD (four wheel drive), melainkan mobil Avanza biasa. Selama cuaca tidak hujan dan sungai tidak meluap,bisa cepat campai ke tujuan. 

Masih ada hal lain yang membuat hati ini terasa miris. Di jaman sekarang dengan segala kecanggihan teknologinya, namun kenyataan membuktikan bahwa di tempat ini ( Mappu) masih belum ada sinyal telekomunikasi. 

Jadi datang ke tempat ini seakan kita akan hilang dalam peradaban karena tidak dapat membangun kontak dengan dunia luar. Sinyal televisi sudah diterima, kecuali jaringan telekomunikasi. Sesuatu yang terasa sungguh diluar dugaan. Kecuali jika wilayahnya bergunung-gunung yang membuat kesulitan membangun provider. 

Namun begitulah, kenyataan yang perlu ditelusuri lagi oleh pemerintah pusat ( tentunya).